laboratorium
Written by ahmadzendel   
Thursday, 13 November 2008
PEMERIKSAAN DAHAK SECARA MIKROSKOPIS
DALAM KASUS TUBERCULOSIS


LABORAT
BAGIO
Semakin maraknya kasus TBC yang terjadi akhir - akhir ini maka tidak menutup kemungkinan sebagai pelaksana ujung tombak pemeriksaan kesehatan / laborat harus lebih jeli dalam setiap pemeriksaan sample darah..............
1.    Pendahuluan.
Dalam program penangulangan penyakit TBC, diagnosis ditegakkan dengan melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Dikarenakan pemeriksaan tersebut merupakan pemeriksaan yang efisien, mudah dan murah serta hampir disemua unit laboratorium dapat melaksanakannya. Meskipun begitu pemeriksaan dahak secara mikroskopis bersifat spesifik dan cukup sensitive.
Mycrobacteryum Tuberculosis sebagai agent TBC berbentuk batang dan mempunyai sifat tahan terhadap penghilangan warna dengan asam dan alkhohol. Karena itu disebut bakteri tahan asam ( BTA ). Kuman baru dapat terlihat di bawah mikroskop bila jumlahnya paling sedikit 5000 kuman dalam satu milliliter dahak. Dahak yang memungkinkan dibuat bahan sediaan pemeriksaan adalah dahak yang kental dan purulent ( mucopurulent ) berwarna hijau kekuning - kuningan, dengan volume 3 – 5 ml tiap pengambilan.

2.    Tujuan.
Tujuan pemeriksaan dahak adalah :
a.    Menegakkan diagnosis dan menenntukan klasifikasi / type.
b.    Menilai pengajuan pengobatan.
c.    Menentukan tingkat resiko penularan.

3.    Pengumpulan dahak.
Spesimen dahak dikumpulkan / ditampung alam pot dahak yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm atau lebih dengan tutup ulir, tidak mudah pecah dan tahan bocor.
Diagnosa TBC ditegakkan dengan pemeriksaan 3 spesimen dahak yaitu sewaktu, pagi, sewaktu ( SPS ).
Untuk menghindari resiko penularan, pengambilan dahak dilakukan di tempat terbuka dan jauh dari orang lain, misalnya di halaman belakang puskesmas.
Bila seseorang sulit mengeluarkan dahak maka dapat dilakukan hal – hal berikut :
a. Dirumah : Malam hari sebelum tidur, minum segelas teh manis atau                 menelan tablet gliseril glukolat 200 mg.
b. Di Puskesmas : Melakukan olah raga ringan ( lari – lari kecil ) kemudian         menarik nafas dalam, beberapa kali. Bila terasa akan batuk            nafas ditaahan selama mungkin lalu disuruh batuk.



4.    Pembuatan dan penyimpanan sediaan dahak.
a.    Ambil pot dahak dan kaca sedsiaan yang sudah diberi label identitas sesuai dengan pot dahak.
b.    Buka pot dengan hati – hati untuk menghindari terjadinya droplet ( percikan dahak ).
c.    Buat sediaan hapus dengan OSE dengan urutan sebagai berikut :
-    Panaskan OSE diatas api spiritus sampai embara, dinginkan.
-    Oleskan sedikit dahak yang purulent dengan OSE.
-    Masukkan OSE kke pasir Lysol.
-    Bakar OSE pada lampu / api spiritus.
-    Keringkan sediaan di udara terbuka.
d.    Semua sediaan yang sudah difiksasi disimpan dalam kotak. Jangan sampai kena sinar matahari langsung atau api.

5.    Pewarnaan sediaan.
a.    Sediaan yang sudah difiksasi ditetesi Carbol Furhasin 0,3%.
b.    Panas diatas api spiritus sampai keluar uap, jangan sampai mendidih.
c.    Diamkan 5 menit.
d.    Bilas dengan air mengalir.
e.    Tetesi dengan alkhohol Asam ( HCl Alkhohol 3% ).
f.    Bilas kembali dengan air.
g.    Tetesi dengan larutan Methylen  Blue 0,3%, sampai permukaan tertutup.
h.    Diamkan 10 - 20 detik.  
i.    Bilas dengan air pelan.
j.    Keringkan sedsiaan ditempat terbuka namun jangan sampai terkena sinar matahari langsung.

6.    Pembacaan hasil sediaan.
Pembacaan hasil sediaan dengan menggunakan skala IUATLD.

7.    Penutup.
Dikarenakan hasil dalam suatu pemeriksaan ditentukan oleh sediaan maka harus diperhatikan teknik pengambilan sediaan sampai pengolahan dalam proses pemeriksaan mikroskopis. Dan yang tidak kalah pentingnya sediaan yang diambil merupakan specimen yang mengandung mikrobakterium yang sewaktu – waktu bisa menularkan kuman penyakit, sebaiknya dan perlu diperhatikan agar tenaga pemeriksa mengedepankan proteksi diri.