Kesehatan adalah adalah segala-galanya

Kesehatan adalah adalah segala-galanya

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

sponsor

blitarian

Total pengunjung


Sekilas Info



Selamat Datang di official website Blitar Sehat. Dapatkan informasi-informasi tentang dunia kesehatan di Blitar dan seputarnya di website yang sederhana ini. Ini merupakan wujud kepedulian kami sebagai insan yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat melalui Puskesmas Kepanjenkidul Kota Blitar.Bila anda memerlukan informasi serta interaktif yang berkaitan dengan dunia kesehatan silahkan akses situs ini http://blitarsehat.com / Details...

Who's Online

We have 4 guests online
Depan
demam tyfoid PDF Print E-mail
Written by ahmadzendel   
Tuesday, 22 December 2009


Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan

oleh kuman Salmonella Typhi dengan masa tunas 6-14 hari. 

 Image

Gejala dan Tanda:

·  Demam > 7 hari, terutama pada malam hari, dan tidak spesifik
·  Gangguan saluran pencernaan: nyeri perut, sembelit/diare, muntah
·  Dapat ditemukan: lidah kotor, splenomegali, hepatomegali
·  Gangguan kesadaran : iritabel-delirium, apati sampai semi-koma
·  Bradikardi relatif, Rose-spots, epistaksis (jarang ditemukan)
·  Laboratorium : titer Widal 1/200 atau lebih atau 1/320
                        pada pemeriksaan ulangan dan klinis.
                       Diagnosa pasti dengan kultur.
                       Titer aglutinin bisa tetap positip setelah
                       beberapa minggu, bulan bahkan tahun,
                       walau penderita sudah sehat.
                       Kadang leukositosis, kadang leukopeni
 

A. Konsep Dasar

1. Definisi

Thypus Abdominalis adalah suatu penyakit infeksi pada usus halus dengan gejala

demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan

dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Rampengan,1990)

2. Anatomi Fisiologi

Susunan saluran pencernaan terdiri dari : Oris (mulut), faring (tekak),

esofagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus),

intestinum mayor (usus besar ), rektum dan anus. Pada kasus demam tifoid,

salmonella typi berkembang biak di usus halus (intestinum minor). Intestinum

minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada

pilorus dan berakhir pada seikum, panjangnya ± 6 cm, merupakan saluran paling

panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari

: lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (M

sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa

(sebelah luar).

Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum.

Duodenum disebut juga usus dua belas jari, panjangnya ± 25 cm, berbentuk

sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dari

bagian kanan duodenum ini terdapat selapu t lendir yang membukit yang disebut

papila vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledikus)

dan saluran pankreas (duktus wirsung/duktus pankreatikus). Dinding duodenum

ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini

disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.

Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar ± 6 meter. Dua perlima

bagian atas adalah yeyenum dengan panjang ± 23 meter dari ileum dengan

panjang 4 – 5 m. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen

posterior dengan perantaraan lipatan peritonium yang berbentuk kipas dikenal

sebagai mesenterium.

Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang

arteri dan vena mesenterika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2

lapisan peritonium yang membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum

dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas.

Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan

lubang yang bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter

ileoseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula seikalis atau valvula

baukhim yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam asendens tidak masuk

kembali ke dalam ileum.

Mukosa usus halus. Permukaan epitel yang sangata luas melalui lipatan mukosa

dan mikrovili memudahkan pencernaan dan absorbsi. Lipatan ini dibentuk oleh

mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Pada

penampang melintang vili dilapisi oleh epitel dan kripta yag menghasilkan

bermacam-macam hormon jaringan dan enzim yang memegang peranan aktif

dalam pencernaan.

Didalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel, termasuk banyak leukosit.

Disana-sini terdapat beberapa nodula jaringan limfe, yang disebut kelenjar

soliter. Di dalam ilium terdapat kelompok-kelompok nodula itu. Mereka

membentuk tumpukan kelenjar peyer dan dapat berisis 20 sampai 30 kelenjar

soliter yang panjangnya satu sentimeter sampai beberapa sentimeter. Kelenjarkelenjar

ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat peradangan

pada demam usus (tifoid). Sel-sel Peyer’s adalah sel-sel dari jaringan limfe

dalam membran mukosa. Sel tersebut lebih umum terdapat pada ileum daripada

yeyenum. ( Evelyn C. Pearce, 2000)

Absorbsi. Absorbsi makanan yang sudah dicernakan seluruhnya berlangsung

dalam usus halus melalui dua saluran, yaitu pembuluh kapiler dalam darah dan

saluran limfe di sebelah dalam permukaan vili usus. Sebuah vili berisis lakteal,

pembuluh darah epitelium dan jaringan otot yang diikat bersama jaringan limfoid

seluruhnya diliputi membran dasar dan ditutupi oleh epitelium.

Karena vili keluar dari dinding usus maka bersentuhan dengan makanan cair dan

lemak yang di absorbsi ke dalam lakteal kemudian berjalan melalui pembuluh

limfe masuk ke dalam pembuluh kapiler darah di vili dan oleh vena porta dibawa

ke hati untuk mengalami beberapa perubahan.

Fungsi usus halus

a. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapilerkapiler

darah dan saluran – saluran limfe.

b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.

c. Karbohidrat diserap dalam betuk monosakarida.

Didalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang

menyempurnakan makanan.

a. Enterokinase, mengaktifkan enzim proteolitik.

b. Eripsin menyempurnakan pencernaan protein menjadi asam amino.

1. Laktase mengubah laktase menjadi monosakarida.

2. Maltosa mengubah maltosa menjadi monosakarida

3. Sukrosa mengubah sukrosa menjadi monosakarida

d. Patofisiologi

Kuman Salmonella Typi masuk tubuh manusia melalui mulut dengan

makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnakan oleh asam

lambung. Sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid

plaque peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertrofi. Di tempat ini

komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman Salmonella

Typi kemudian menembus ke lamina propia, masuk aliran limfe dan mencapai

kelenjar limfe mesenterial, yang juga mengalami hipertrofi. Setelah melewati

kelenjar-kelenjar limfe ini salmonella typi masuk ke aliran darah melalui duktus

thoracicus. Kuman salmonella typi lain mencapai hati melalui sirkulasi portal

dari usus. Salmonella typi bersarang di plaque peyeri, limpa, hati dan bagianbagian

lain sistem retikuloendotelial. Semula disangka demam dan gejala-gejala

toksemia pada demam tifoid disebabkan oleh endotoksemia. Tapi kemudian

berdasarkan penelitian ekperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan

merupakan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada demam

tifoid. Endotoksin salmonella typi berperan pada patogenesis demam tifoid,

karena membantu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan tempat

salmonella typi berkembang biak. Demam pada tifoid disebabkan karena

salmonella typi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan penglepasan zat

pirogen oleh zat leukosit pada jaringan yang meradang.

Masa tunas demam tifoid berlangsung 10-14 hari. Gejala-gejala yang

timbul amat bervariasi. Perbedaaan ini tidak saja antara berbagai bagian dunia,

tetapi juga di daerah yang sama dari waktu ke waktu. Selain itu gambaran

penyakit bervariasi dari penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran

penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian hal ini menyebabkan bahwa

seorang ahli yang sudah sangat berpengalamanpun dapat mengalami kesulitan

membuat diagnosis klinis demam tifoid.

Dalam minggu pertama penyakit keluhan gejala serupa dengan penyakit

infeksi akut pada umumnya , yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot,

anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk

dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisis hanya didapatkan suhu badan meningkat .

dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas dengan demam, bradikardia

relatif, lidah yang khas (kotor di tengah, tepi daan ujung merah dan tremor),

hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan mental berupa somnolen,

stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang ditemukan pada orang

Indonesia.

3. Dampak Masalah

a. Pada pasien

1) Pola persepsi dan metabolisme

Nafsu makan klien meurun yang disertai dengan mual dan muntah.

2) Pola eliminasi

Klien tyfoid biasanya mengalami konstipasi bahkan diare.

3) Pola aktivitas dan latihan

Klien demam tyfoid haruslah tirah baring total untuk mencegah terjadinya

komplikasi yang berakibat aktivitas klien terganggu. Semua keperluan

klien dibantu dengan tujuan mengurangi kegiatan atau aktivitas klien.

Tirah baring totalnya yang dapat menyebabkan terjadinya dekubitus dan

kontraktur sendi.

4) Pola tidur dan istirahat

Terganngu karena klien biasanya gelisah akibat peningkatan suhu tubuh.

Selain itu juga klien belum terbiasa dirawat di rumah sakit.

5) Pola penanggulangan stress

Pada pola ini terjadi gangguan dalam menyelesaikan permasalahan dari

dalam diri klien sehubungan penyakit yang dideritanya.

b. Pada keluarga

1) Adanya beban mental sebagai akiabt dari salah satu anggota keluarganya

dirawat di rumah sakit karena sakit yang di deritanya sehingga

menimbulkan kecemasan.

2) Biaya merupakan masalah yang dapat menimbulkan beban keluarga. Bila

perawatan yang diperlukan memerlukan perawatan yang konservatif yang

lama di rumah sakit, akan memerlukan biaya yang cukup banyak,

sehingga dapat menimbulkan beban keluarga.

3) Akibat klien di rawat di rumah sakit maka akan menambah kesibukan

keluarga yang harus menunggu anggota keluarga yang sakit.

 
< Prev   Next >
copyright © 2008 Blitar Sehat